Supersemar, Alat Suharto supersemar soekarno

supersemar soekarno

Supersemar adalah singkatan dari Surat Perintah Sebelas Maret, sebuah peristiwa yang terjadi pada tahun 1966 di Indonesia. Surat tersebut dikeluarkan oleh Presiden Soekarno dan memberi mandat kepada Jenderal Soeharto untuk mengambil alih keamanan dan stabilitas negara dalam situasi krisis politik. Meskipun pada awalnya terlihat sebagai tindakan mendukung Soekarno, Supersemar kemudian menjadi langkah yang mengarah pada penggulingannya.

Cara Soeharto menjatuhkan Soekarno berawal dengan memanfaatkan situasi politik yang kacau pada masa itu. Indonesia saat itu mengalami ketegangan politik dan ekonomi yang disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk konflik internal dalam pemerintahan dan tekanan dari pihak asing. Sebagai seorang militer tinggi yang memiliki dukungan di kalangan militer dan elit politik, Soeharto memanfaatkan ketidakstabilan tersebut untuk mengkonsolidasikan kekuasaannya.

Bacaan Lainnya

Suharto Menggulingkan Soekarno

Pertama, dengan supersemar Soeharto menggunakan kekuatan militer dan dukungan politiknya untuk mengisolasi Soekarno secara politik. Dia memanfaatkan krisis ekonomi dan kerusuhan sosial yang terjadi pada saat itu sebagai alasan untuk menyalahkan rezim Soekarno. Dengan memperkuat kendali militer atas keamanan dan menunjukkan ia sebagai pemimpin yang dapat menjamin stabilitas. Soeharto secara bertahap menggantikan posisi Soekarno sebagai pemimpin de facto Indonesia.

Kedua, Soeharto memanfaatkan kelemahan politik dan dukungan yang semakin melemah terhadap Soekarno. Dia menggunakan propaganda dan manipulasi media untuk membentuk opini publik yang mendukung langkah-langkahnya. Soeharto juga berhasil memperoleh dukungan dari sebagian besar elit politik, militer, dan bisnis yang tidak puas dengan pemerintahan Soekarno.

Langkah terakhir dalam menjatuhkan Soekarno adalah dengan mengisolasi dan membatasi peran politiknya secara bertahap. Soeharto menggunakan alasan legal dan politis untuk membatasi Soekarno. Hal itu juga termasuk pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dekat dengan Soekarno. Pada akhirnya, pada tahun 1967, Soekarno secara resmi deklarasikan oleh MPR sebagai “Presiden Seumur Hidup” tetapi kekuasaannya secara efektif sebenarnya milik Soeharto.

Dengan demikian, melalui kombinasi dari penggunaan kekuatan militer, dukungan politik, propaganda, dan manipulasi keadaan, Soeharto berhasil menjatuhkan Soekarno dan mengkonsolidasikan kekuasaannya sebagai presiden baru Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar